Translate

Obyek Wisata di BALI (6)


Pantai Suluban 
Pantai ini terletak beberapa kilometer di sebelah utara Uluwatu, bertetanga dengan Pantai selancar Bingin dan Labuhan Sait. Suluban berasal dari bahasa Bali yang berarti “berjalan atau lewat di bawah sesuatu”. Diberi nama Pantai Suluban, karena pengunjung yang ingin ke sana harus melewati goa batu karang sebelum akhirnya sampai di pantai yang luas, berpasir putih dengan gemuruh gelombangnya menyenangkan bagi wisatawan peselancar.
Air laut pantai ini sangat jernih dan gelombangnya cukup tinggi, sehingga merupakan pantai yang paling dikenal dikalangan peselancar dunia.
Beberapa fasilitas pariwisata seperti Restauran, bar, penyewaan alat-alat surfing serta bengkel perbaikan sudah tersedia.
Patung Satria Katot Kaca 
Patung Gatotkaca yang megah ini dibangun pada tahun 1993 di tengah-tengah simpang tiga di sebelah timur laut Bandar Udara Internasional Ngurah Rai, Tuban. Diambil dari cerita Mahabarata, dimana dalam cerita tersebut Gatotkaca dikisahkan sebagai ksatria yang gagah perkasa dan pemberani, anak dari Bimasena, salah satu dari ksatria Panca Pandawa. Ia dikenal sebagai ksatria yang ahli terbang dan bertanggungjawab pada pertahanan udara serta memberi perlindungan bagi keselamatan kerajaan Pandawa.
Maksud pendirian patung ini adalah dalam rangka usaha terus memperindah kawasan sekitar Bandar Udara Ngurah Rai. Patung ini juga dipercaya dapat memberikan perlindungan spiritual dan keamanan bagi para wisatawan yang datang ke dan berangkat dari Bali.
Penangkaran Penyu Deluang Sari 
Deluang sari adalah sebuah delta kecil ditumbuhi hutan bakau, berpantai pasir putih, dengan gelombangnya yang tenang, terletak menghadap dengan pusat rekreasi laut Pelabuhan Benoa. Karena memiliki sistem ekologi yang utuh, pantainya yang bersih, hutan bakaunya yang subur, maka tempat ini telah dikembangkan untuk penangkaran Penyu laut. Di saat air surut kita dapat menyebrang ke sana dengan berjalan kaki disela-sela pohon bakau dari Tanjung Benoa, namun di saat air laut pasang, kita harus menyeberang dengan perahu / jukung dari pelabuhan Benoa selama sekitar 10 menit.
Di samping melihat penangkaran penyu, wisatawan yang datang kesini juga dapat melihat berbagai jenis ayam aduan, binatang dan burung-burung liar serta sebuah pura kecil. Sebagai kawasan wisata, di pulau kecil ini juga sudah tersedia rumah makan, toko cindera mata serta tempat atraksi pertunjukan satwa.
Pura Peti Tenget 
Pura dan Pantai Peti Tenget terletak di Banjar Batu Belig, Desa Adat Kerobokan, Kecamatan Kuta Utara. Untuk menuju lokasi dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor dari Kota Denpasar ke arah Barat kemudian ke Selatan yang jaraknya kurang lebih 10 km atau dari Kuta ke arah Utara menyusuri jalan raya Seminyak.
Pura Peti Tenget berdiri sekitar abad XV dan Pura tersebut adalah merupakan sepetak tegalan yang bersemak belukar yang angker (dalam bahasa bali disebut tenget) karena dihuni oleh Bhuto Ijo yang membawa mandat dari Pedanda Sakti Wawu Rauh untuk mengamankan peti pecanangan beliau. Hal kisah pada saat itu Pedanda Sakti sedang berada di anjungan bukit selatan (Uluwatu sekarang) datang menghadap seorang masyarakat Kerobokan mohon belas kasihan beliau agar tanah tegalan tersebut bisa dimanfaatkan masyarakat. Disarankan oleh beliau agar di tempat tersebut didirikan pelinggih penyungsungan Ida Bhatara Labuhan Masceti serta dibuatkan pula pegedongan untuk Bhuta Ijo sebagai tempat mengamankan dan menyelamatkan peti pecanangan Pedanda Wawu Rawuh.Kemudian mulai saat itu pura tersebut dinamakan Pura Peti Tenget.
Di sebelah Barat dari Pura Peti Tenget membentang pantai berpasir putih serta sering digunakan tamu untuk mandi dan berjemur. Pada sore hari pemandangannya menjadi begitu mempesona untuk menyaksikan matahari terbenam.
Di sekitar lokasi tersedia areal parkir yang cukup luas, tempat penginapan serta tempat makan dan minum yang cukup banyak dan representatif. Pura Pucak Tedung
Terletak di Banjar Kertha Desa Petang sekitar 37 Km dari Kota Denpasar serta berada pada ketinggian 730,77 m dari permukaan laut yang dapat ditempuh sekitar 2 jam dengan jalan santai dari lokasi parkir.
Menurut mitologi menyebutkan bahwa pada saat Dang Hyang Nirartha melakukan perjalanan dari Pulaki menuju Bali bagian Timur, disebutkan beliau beristirahat pada puncak sebuah dataran tinggi di Desa Petang. Pada saat melanjutkan perjalanan tedung (payung) beliau tertinggal di tempat peristirahatan tersebut, maka pucak tersebut dinamakan Pucak Tedung.
Tedung yang ditinggalkan tersebut dilihat oleh masyarakat setempat pada malam harinya bersinar yang mempunyai kekuatan magis sehingga oleh Raja Mengwi yang berkuasa saat itu memerintahkan masyarakat setempat untuk membangun pelinggih berupa meru tumpang tiga sebagai penghormatan terhadap jasa-jasa Dang Hyang Nirartha.
Kawasan luar Pucak Tedung memiliki panorama pemandangan yang sangat indah serta bahwa sejuk, dimana dari tempat tersebut kelihatan pemandangan Bali bagian Timur, Barat serta Selatan. Tempat ini sangat menarik digunakan untuk mencari inspirasi dan kedamaian bagi mereka yang senang melakukan semadi.
Pura Sadha 
Sebuah Pura yang sangat dikenal dengan ukirannya yang rinci dan apik. Berlatar belakang Kerajaan Majapahit, Pura ini dahulu dimaksudkan sebagai tempat berstananya Ratu Jayengrat yakni seorang Bangsawan yang diceritakan berlayar dari Majapahit kemudian terdampar kandas di atas sebuah Batu karang di desa Kapal saat gelombang pasang masuk sampai ke daerah tersebut.
Pura ini hancur karena gempa bumi hebat yang terjadi pada tahun 1917 dan tidak sempat dipugar hingga tahun 1950.
Candi bentar dan tugu yang tingginya mencapai 16 meter di halaman bagian dalam Pura tersebut dibangun sesuai arsitektur Jawa,sedangkan candi yang kecil berupa tempat duduk dari batu berjumlah 64 buah yang merupakan tugu leluhur jaman megalitikum untuk mengenang para ksatria yang gugur dalam perang.
Pura Taman Ayun 
Secara arfiah, Taman Ayun berarti Taman yang Indah. Pura ini terletak di Desa Mengwi sekitar 18 kilometer barat laut kota Denpasar dan merupakan salah satu dari pura-pura yang terindah di Bali. Halaman pura ditata sedemikian indah dan dikelilingi kolam ikan yang dibangun tahun 1634 oleh Raja.Mengwi saat itu I Gusti Agung Anom. Dihiasi oleh meru – meru yang menjulang tinggi dan megah diperuntukkan baik bagi leluhur kerajaan maupun bagi para Dewa yang bestana di Pura-pura lain di Bali.
Pura Taman Ayun adalah Pura lbu (Paibon) bagi kerajaan Mengwi. Setiap 210 hari tepatnya setiap “Selasa Kliwon Medangsia” (Menurut perhitungan tahun Saka) segenap masyarakat Mengwi merayakan piodalan selama beberapa hari memuja Tuhan dengan segala manifestasinya.
Kompleks Pura dibagi menjadi 4 halaman yang berbeda, yang satu lebih tinggi dari yang lainnya. Halaman Pertama disebut dengan Jaba yang bisa dicapai hanya dengan melewati satu-satunya jembatan kolam dan Pintu gerbang. Begitu masuk di sana ada tugu kecil untuk menjaga pintu masuk dan di sebelah kanannya terdapat bangunan luas (wantilan) dimana sering diadakan sabungan ayam saat ada upacara.
Di halaman ini, juga terdapat tugu air mancur yang mengarah ke 9 arah mata angin. Sambil menuju ke halaman berikutnya, di sebelah kanan jalan terdapat sebuah komplek pura kecil dengan nama Pura Luhuring Purnama.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar